Hakim24jam.com –
Padang -Deputi Bidang Usaha Kecil Kementerian Koperasi dan UKM RI, Temmy Satya Permana, membuka secara resmi Rapat Koordinasi Pemanfaatan Teknologi bagi Usaha Kecil dan Hilirisasi Gambir di Hotel Pangeran Beach, Padang, Selasa (26/8/2025).
Acara yang mengangkat sub tema “Hilirisasi Gambir di Sumatera Barat” ini menghadirkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari kementerian, OPD terkait, BRIN, asosiasi, hingga perusahaan gambir. Sebanyak 70 peserta hadir dalam forum strategis tersebut.
Gambir, Komoditas Ekspor Unggulan
Dalam sambutannya, Temmy menegaskan bahwa gambir adalah komoditas ekspor unggulan Indonesia, di mana Sumatera Barat menjadi produsen utama dunia.
“Indonesia memasok hingga 80% kebutuhan gambir dunia. India menjadi negara tujuan utama ekspor dengan permintaan mencapai 13.000–14.000 ton per tahun. Selain India, ekspor gambir kita juga masuk ke Jepang, Pakistan, Filipina, Bangladesh, dan Malaysia,” jelas Temmy.
Ia menambahkan, meningkatnya permintaan dunia harus dijawab dengan hilirisasi dan inovasi produk turunan. “Sumatera Barat punya peluang besar mengembangkan gambir menjadi bahan baku industri farmasi, kosmetik, hingga pewarna alami yang bernilai tinggi,” tegasnya.
Hilirisasi Butuh Kolaborasi Daerah
Menurut Temmy, strategi hilirisasi gambir tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah pusat. “Kementerian UMKM hanya sebagai fasilitator. Peran aktif pemerintah daerah sangat menentukan. Kepala daerah harus berinovasi memanfaatkan potensi lokal secara maksimal,” ujarnya.
Ia mencontohkan rencana Rumah Produksi Bersama sebagai bentuk kolaborasi untuk meningkatkan nilai tambah gambir. “Jika ini dijalankan, tidak hanya menyejahterakan petani, tetapi juga menjadikan Sumatera Barat sebagai barometer gambir nasional bahkan dunia,” tambahnya.
Laporan Pelaksana: Dorong UMKM Naik Kelas
Sebelumnya, Asisten Deputi Produksi dan Digitalisasi Usaha Kecil, Dr. Ali, ST, M.Si, dalam laporannya menegaskan bahwa hilirisasi harus berjalan seiring dengan digitalisasi usaha kecil.
“Kolaborasi dengan pengusaha lokal menjadi kunci. Melalui konsep Rumah Produksi Bersama, kita ingin UMKM gambir naik kelas dengan memanfaatkan teknologi, standar mutu, dan akses pasar yang lebih luas,” ujar Ali.
Harapan ke Depan
Baik Temmy maupun Ali sama-sama menekankan bahwa keberhasilan hilirisasi gambir akan berdampak langsung pada kesejahteraan petani Sumatera Barat. Dengan meningkatnya nilai tambah produk, petani tidak lagi bergantung pada ekspor bahan mentah, melainkan dapat menikmati hasil dari diversifikasi produk bernilai tinggi.
“Gambir adalah emas hijau Sumatera Barat. Dengan inovasi, teknologi, dan sinergi pusat-daerah, kita bisa menjadikan komoditas ini sebagai motor penggerak ekonomi rakyat sekaligus memperkuat posisi Indonesia di pasar global,” tutup Temmy.
#Wapim#







